Ini Alasan Apindo Usulkan Buruh 4 Hari Kerja Upah Dipotong 75 Persen

- Sabtu, 14 Januari 2023 | 16:13 WIB
Ratusan pekerja sepatu di sebuah pabrik di Tanggulangin, Sidoarjo bisa terancam, jika Import sepatu bekas masih masif di Indonesia, 11/01/2023 (foto : Win)
Ratusan pekerja sepatu di sebuah pabrik di Tanggulangin, Sidoarjo bisa terancam, jika Import sepatu bekas masih masif di Indonesia, 11/01/2023 (foto : Win)

HALLO BANTEN - Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo meminta pemerintah untuk menyetujui usulan pengurangan waktu kerja dari yang sebelumnya 40 jam menjadi 30 jam. Namun, fleksibilitas jam kerja tersebut juga akan, mengurangi upah menjadi 75 persen.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Anton J Supit mengatakan bahwa usulan fleksibilitas jam kerja tersebut untuk mencegah berlanjutnya pemutusan hubungan kerja atau PHK padat karya. Usulan fleksibilitas jam kerja tersebut mempertimbangkan ketidakmampuan sebagian pengusaha padat karya untuk membayar upah sesuai aturan Permenaker No.18 Tahun 2022 Tentang Penetapan Upah Minimum Tahun 2023.

Menurut dia, kasus pemutusan hubungan kerja atau PHK yang tengah terjadi di industri padat karya merupakan persoalan yang serius.

Baca Juga: Sekeluarga di Bekasi Keracunan, Polisi: Tetangga Sempat Dengar Rintihan

"Jadi saya ingin menegaskan bahwa ini bukan akal-akalan pengusaha, bukan itu, tapi ini untuk mengurangi PHK. Maka bisa enggak kita ada fleksibilitas waktu? Yaitu kalau sekarang peraturannya 40 jam perminggu, bisa enggak diturunkan menjadi 30 jam, tapi yang harus kami bayarkan 30/40 di kali upah, jadi 75%," ujar Anton, dikutip Sabtu 14 Januari 2023.

Selama ini para buruh atau pekerja menghabiskan waktu 40 jam dalam seminggu dengan bekerja 5-6 hari per minggu. Dengan pemangkasan waktu kerja, ada kemungkinan jumlah kerja menjadi 4 hari dalam seminggu.

Salah satu sektor padat karya yang rentan melakukan PHK adalah industri alas kaki. Anton mengatakan, Asosiasi sudah mengajukan pemberitahuan ke pemerintah bahwa permintaan ekspor sepatu dari Amerika Serikat dan Eropa itu menurun drastis.

"Sehingga kalau sepatu itu permintaannya rata-rata turun hingga 50%. Tapi tidak semua pabrik mengalami hal yang sama ya. Ada yang lebih kecil ada yang lebih besar," ujarnya.

Menurut Anton, kondisi penurunan permintaan juga bukan hanya di Indonesia namun juga negara lain seperti Vietnam dan Cina. "Ini bukan persoalan dalam negeri kita yang masalah, ini bagian dari supply chain dunia dan kita kena," kata dia.

Anton mengatakan, sudah banyak perusahaan pada karya lain yang melakukan PHK akibat penurunan order. Dia merujuk pada data BPJS di mana terdapat 900 ribu lebih karyawan yang terkena PHK hingga November 2022.

Halaman:

Editor: Yudhi Aulia Rahman

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Erick Thohir Sebut 40 Ribu UMKM Gabung di PaDi UMKM

Kamis, 26 Januari 2023 | 15:28 WIB

Komitmen HIMBARA Dukung Hilirisasi Industri

Selasa, 17 Januari 2023 | 20:09 WIB
X