Benarkah Gempa Cianjur Akibat Aktivitas Gunung Gede Meningkat? Cek Faktanya

- Kamis, 24 November 2022 | 15:22 WIB
Bagian dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. (Foto : bogor.net)
Bagian dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. (Foto : bogor.net)

HALLO BANTEN, JAKARTA - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan penjelasan mengenai aktvitas gempa bumi yang berpusat di Cianjur, Jawa Barat dengan magnitudo M5,5 pada kedalaman 10 KM.

Hasil analisis melaporkan pemicu kegempaan tersebut bukan berasal dari peningkatan aktivitas Gunung Gede.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Hendra Gunawan menyatakan bahwa kondisi Gunung Gede saat ini masih dalam level 1 atau normal.

"Dari data-data saat ini, tidak ditemukan adanya peningkatan aktivitas Gunung Gede, sehingga diharapkan masyarakat untuk tetap tenang," ujarnya saat memberikan Keterangan Pers secara daring pada Selasa 22 November 2022.

Baca Juga: BNPB Sebut Total Korban Meninggal Gempa Cianjur Capai 271 Jiwa

Lebih lanjut Hendra mengungkapkan, Gunung Gede pernah terjadi krisis kegempaan pada sekitar tahun 1950-an, dan setelah diteliti, karakter dari Gunung Gede tersebut muncul krisis kegempaan setiap 20 tahun. Meskipun begitu, aktivitas Gunung Gede tidak pernah berlanjut menjadi level yang lebih tinggi.

"Terlepas dari historisnya, Gunung Gede pernah erupsi, baik berupa awan panas ataupun aliran lava, namun, dari 100 hingga 200 tahun terakhir belum menunjukkan adanya peningkatan," ungkap Hendra.

Sementara itu, terkait gempa bumi di Cianjur, Hendra menjelaskan bahwa daerah yang menjadi pusat sumber gempa tersebut merupakan kawasan rawan bencana gempa bumi, dimana struktur tanah atau batuannya kurang terkonsolidasi.

Karena batuannya relatif mudah, apabila terjadi gempa bumi, akan memperkuat efek dari guncangan gempa. Terlebih, informasi yang disampaikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa sumber gempa merupakan gempa bumi dangkal yang tidak jauh dari patahan aktif sesar Baribis.

Lebih lanjut, Hendra mengungkapkan bahwa hal terpenting dalam bencana gempa bumi adalah bagaimana mengidentifikasi daerah-daerah dengan resiko tinggi ataupun rendah, sehingga Pemerintah Daerah mempunyai acuan dalam pengembangan tata ruang untuk pembangunan di wilayahnya.

Halaman:

Editor: Yudhi Aulia Rahman

Tags

Artikel Terkait

Terkini

7 Orang Tewas karena Bus Masuk Jurang di Magetan

Minggu, 4 Desember 2022 | 16:21 WIB

Garut Gempa 6,4 SR

Sabtu, 3 Desember 2022 | 18:38 WIB
X